I Made Kastiawan, ST.,MT Dosen FT Untag Surabaya Mendapatkan Hibah IbM

  Jumat, 03 Juli 2015 - 15:04:17 WIB   -     Dibaca: 146 kali

I Made Kastiawan, ST.,MT dosen Fakultas Teknik (FT) Untag Surabaya mendapatkan hibah Iptek Bagi Masyarakat (IbM) tentang “ Usaha Rumah Tangga Aneka Keripik Di Desa Wonodadi Kulon Kabupaten Pacitan ”. Dalam menjalankan hibah tersebut Made dibantu oleh dua rekannya, yaitu Ir.Rini Rahayu S,MP dan Ir. Tyurma Wiliana Susanti. P, M.Si.

Dana hibah IbM diberikan kepada masyarakat Desa Wonodadi Kulon Kabupaten Pacitan karena desa tersebut memiliki potensi bahan baku kripik yang cukup besar. Selain cukup banyak bahan baku keripik, disana juga terdapat beberapa kelompok pembuat keripik, tetapi masih dikelola secara sederhana dan diproses dengan konvensional.

“ Bahan bakunya banyak untuk membuat kripik seperti ketela pohon, pisang, dan sejenisnya. Sehingga dperlukan sentuhan mesin pembuat keripik,” kata Made di kantornya gedung A lantai 2, Rabu (30/6/2015).

Alat pemotong keripik yang disumbangkan kepada masyarakat di desa Wonodadi merupakan mesin buatan timnya sendiri pada tahun 2014 lalu. Sebenarnya alat tersebut sudah ada di pasaran, tetapi oleh dimodifikasi dari sisi kapasitas dengan tiga saluran yang berbentuk bulat, lonjong, dan kotak.“ Untuk lonjong bisa untuk pisang, segi empat untuk talas dan umbi-umbian, dan bulat untuk ketela pohon,” imbuhnya.

Dari hasil pengujian dalam 1 jam alat tersebut bisa memproses 60-80 Kg bahan keripik di satu saluran. Jika ketiga saluran digunakan bersama-sama bisa mencapai lebih dari 1 kuintal per jam. Sedangkan masyarakat desa dalam memproduksi keripik secara konvensional hanya mampu 50-80 Kg saja sehari. “ Kita bisa melihat berapa waktu yang bisa dikurangi dengan menggunakan alat ini,” jelas Made.

Tim IbM Made selain memberikan alat juga membantu dalam segi promosi, pengolahan, kemasan, dan cara pembukuan yang baik. “ Selama ini keripik di pasarkan di pasar lokal dengan kemasan yang kurang menarik, dititipkan di toko-toko, dan menunggu pembeli datang,” ucapnya.

Made berharap dengan adanya hibah IbM tersebut bisa mengubah pola pikir masyarakat untuk berwirausaha. “ Selama ini masyarakat berfikir bahwa membuat keripik hanya sebagai pekerjaan sampingan, maka perlu dirubah,” tutup Made.

Agar alat pemotong keripik yang diberikan itu tidak menjadi perselisihan dikemudian hari, maka tim Made melakukan kerjasama dengan pihak desa untuk pengaturan penggunaannya terutama dari pihak PKK.


KOMENTAR